Archive for the ‘wisata mistik’ Category

misteri, pudak sari (6)

February 17, 2010

Misteri:

——ada foto—–

#Obsesi Membangun Wisata Mistik di Karangasem (6-habis)#

Balapan Antar Motor Siluman, Terlihat dari Bukit Pudak Sari

Beragam kisah unik berbau misteri, ternyata bisa disingkap dari puncak Bukit Pudak Sari, Banjar Alastunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem. Bukan saja bisa menyaksikan  bertemunya para penganut ilmu hitam ditandai berkerumunnya lampu (endihan) bagaikan kunang-kunang dari kejauhan, dan atraksi perang antar leak, juga sesekali ada atraksi balapan antar motor siluman.

Aktivitas itu dilakukan bagi para penganut leak di tingkatan bagian bawah. Di zaman modern ini, petualangan yang mendalami ilmu Leak Pamoroan, Leak Badeng, Leak Selem dan sejenisnya, juga menyesuaikan. Wujud maya berupa siluman bisa berbentuk: kapal terbang, mobiln sepeda motor, dan sejenisnya.

I Ketut Sudita, warga Banjar Pesangkan Anyar, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem sempat menyaksikan balapan bernuansa gaib tengah malam dari puncak Bukit Pudak Sari, ke arah utara. Jalur balapan dua sepeda motor itu terjadi dari Banjar Bambang Biaung menuju Banjar Pegubugan (Desa Duda).

“Posisi balapan bukannya sejajar di jalan raya, tetapi antara satu motor dengan yang lainnya posisinya di atas dan di bawah, disertai slayer kain kapan, berkibar,” kenang Sudita di kediamannya, belum lama ini.

Kain kapan di kedua motor itu katanya berkibar-kibar ditiup angin, dari kain tersebut muncul bayangan dua manusia. “Saya heran juga, posisi balapan, bukannya sejajar,” lanjutnya.

Setibanya di pertigaan Banjar Pegubugan atau depan KUD Selat katanya, kedua motor berwujud maya itu, melaju ke arah utara menuju Banjar Geriana Kangin, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat. Selanjutnya balik lagi, mendekati KUD Selat atau sebelah barat Pura Ulunswi, kedua pembalap di dunia kegelapan itu kemudian menghilang.

Motor yang disaksikan Sudita katanya, tetap berisi lampu hingga jalan raya menjadi terang benderang. Suaranya yang dikeluarkan kurang nyaring. Ternyata jalur digunakan tidak mesti menggunakan jalan raya, bisa di tengah sawah, di puncak bukit atau di tegalan, dengan posisi melayang-layang.

Paranormal I Wayan Dite Wijaya mengatakan, balapan di dunia malam katanya, juga merupakan bagian dari adu saksi antar siluman. Kejadiannya begitu singkat. Sama halnya perang tanding antar leak yang ilmunya telah memasuki tingkat tinggi, yang ditandai saling serang, menyambar-nyambar bagaikan meteor.

Pihak yang kalah kata Dite, tubuhnya merasakan sakit bagaikan ditusuk-tusuk jarum, atau ranjau. Keesokan harinya, penganut leak yang kalah perang bisa muntah darah, atau stroke secara mendadak.

Jika kata Dite, leak yang kalah perang, kemudian mati, maka jasadnya secara kasat mata terlihat utuh. Padahal, mengalami luka-luka dalam. Luka-luka itu akan terlihat jelas, apabila jasadnya dimandikan menggunakan air kelapa gading.

“Motor siluman biasanya ramai berkeliaran di tengah malam, apabila ada kematian, atau jelang musim ngaben,” demikian Dite.

Apa yang dikatakan Dite, NusaBali juga beberapa kali memiliki pengalaman serupa, hanya sekadar mendengar suara motor siluman. Suaranya, jauh berbeda dari motor biasa. Suaranya motor siluman tersendat-sendat. i wayan nantra

Misteri: balapan antar motor siluman sempat melintasi Banjar Pegubugan,

misteri, pudak sari (5)

February 17, 2010

Misteri:

—–ada foto—-

#Obsesi Membangun Wisata Mistik di Karangasem (5)#

Babai Penyakit Gaib, Hasil Selingkuh Antar Leak

Sesungguhnya berkumpulnya para penganut ilmu leak, dapat disaksikan dari puncak Bukit Pudak Sari, di Banjar Alastunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem, bukan semata-mata menghadiri paruman (sangkepan) yang merupakan acara rutin setiap 15 hari sekali, juga terjadi perselingkuhan antar leak. Sebab, para penganut ilmu hitam itu, jika di siang hari hanya terlihat wajah-wajah tua.  Tetapi di malam hari, nampak hingar bingar,  cantik jelita berbaur dengan para penganut ilmu pangiwa yang tampan.

Di situlah terjadi perselingkuhan, antara satu dengan lainnya. Sehingga tak terasa, bercengkrama dari pukul 20.00-03.00 Wita. Sebab, lokasinya sangat memungkinkan, jauh dari intaian warga masyarakat, jauh dari pemukiman, lokasinya di lerang bukit yang tersembunyi.

Di Bukit Pudak Sari itu sendiri ada tiga bukit, bagian utara, timur dan barat. Juga ada lembah, dan ngarai. Ke arah selatan panoramanya berupa Teluk Labuhan Amuk, ke utara terlihat Gunung Agung.

Jalinan cinta di dunia maya yang  dianut para penekun ilmu leak, teluh, teranjana atau moro, semakin bersemi dan kian mesra. “Bahkan terjadi free seks. Makanya ada istilah bebai anak leak, ya itu tadi, hasil hubungan seks antar leak,” jelas paranormal I Wayan Dite Wijaya, yang kerkali-kali menyaksikan pertemuan antar leak dari puncak Bukit Pudak Sari, dituturkan kepada NusaBali di kediamannya, belum lama ini.

Dite mengaku pernah dapat  cerita mengenai pengalaman berpetualangan malam, dari salah seorang kerabatnya yang berprofesi sebagai balian pangiwa. Kerabatnya itu terlibat langsung dalam pergulatan cinta secara gaib. Hanya saja, balian pangiwa itu, tak mau larut dalam cinta palsu yang disulap dalam wujud maya.

Salah satu siasatnya kata Dite, di malam hari, balian pangiwa tersebut membekali diri dengan sirih dan kapur. Begitu bertemu pacarnya yang dilihat cantik jelita, maka memadu janji agar bersedia bertemu di suatu tempat di siang hari. Sebelum berpisah, balian pangiwa ini tak lupa menggoreskan tapak dara menggunakan kapur sirih di punggung pacarnya.

Keesokan harinya setelah bertemu di dunia nyata, ternyata bekas kapur sirih itu masih nampak jelas, sedangkan wajah penganut ilmu hitam itu, terlihat tua dan keriput. Kontan saja balian pangiwa itupun langsung lari, merasa jijik.

Tetapi pengertian babai panak (anak) leak, versi dr Ngurah Nala MPH, dalam buku Usada Bali diterbitkan PT Usada Sastra Denpasar, setebal 271 halaman, merupakan sarana penyakit yang dibuat dari raga janin dan kanda pat.

Janin itu, tulis Ngurah Nala, dikeringkan, kemudian dibawa ke kuburan di hari Kajeng Kliwon, dimohonkan kepada Ida Batari Durga, agar diberikan kekuatan. Jika permohonan dipenuhi, janin itu memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Maka sejak itu disebut rare Wong, bayi manusia. Sejak itu pula bayi tersebut menjadi babai. Babai itu juga setiap hari Purnama, Tilem dan Kajeng Kliwon disuguhi sasajen. Dan babai itu sewaktu-waktu siap dikirim pemiliknya digunakan membencanai orang lain. i wayan nantra

Foto: lokasi selingkuh antar leak, lahirkan babai

misteri, pudak sari (3)

February 17, 2010

Misteri:

—–ada foto—–

#Obsesi Membangun Wisata Mistik di Karangasem (3)#

Dikroyok Leak, Nyaris Dibakar Api Suci Batara Kilap

Kombinasi pengalaman gaib, antara menakutkan, menegangkan dan rasa ingin tahu, dirasakan, I Wayan Matra dari Banjar Putung, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem. Matra menuturkan, saat bermalam di Pura Pudak Sari, lokasinya di puncak Bukit Pudak Sari, Banjar Alastunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, bersama paranormal I Wayan Dite Wijaya dari Banjar Pesangkan Anyar, Desa Duda Timur.

Saat itu menurut Matra, hari Tilem, malam Kajeng Kliwon. Kebetulan malam itu merupakan jadwal paruman leak. Sehingga dengan jelas bisa disaksikan kegiatan tersebut dari puncak Bukit Pudak Sari, ditandai berkerumunnya cahaya gaib, dipimpin bola lampu biru yang ukurannya paling besar.

Matra hanya datang berdua membawa perlengkapan upakara untuk kebutuhan upacara Tumpek Ngatag, yang jatuh di hari Saniscara (Sabtu), Kliwon, Wariga. Kedatangannya Jumat malam, tujuannya agar bisa melakukan persembahyangan di pagi hari, keesokan harinya.

Begitu tiba di puncak Bukit Pudak Sari, istirahat di Pura Pudak Sari, langsung menyantap bekal. Selanjutnya, paranormal I Wayan Dite Wijaya yang diajaknya langsung tidur di piasan Pura Pudak Sari, ukuran 2 meter kali 3 meter tanpa dinding. Sedangkan Matra, masih berkemas-kemas di luar pagar pura.

Saat itulah, tiga lampu gaib, terpisah dari gerombolan paruman leak, mengejar Matra. Matra langsung menyelinap di Pura Pudak Sari, sambil tidur-tiduran di piasan.

Matra mengaku ketakutan, tiga lampu siluman tersebut, terus menungguinya dari balik pohon cengkih yang ada di tegalan itu.  Sebab, Matra dianggap telah mengintip aktivitas paruman leak yang tengah asik digelar, sehingga aktivitas leak di tengah malam itu terusik. “Saya benar-benar dibuat ketakutan. Tiga lampu gaib tersebut, terus mengintip saya dari balik dahan pohon. Saya tidak bisa tidur sampai pagi,” kenang Matra di Amlapura, Selasa (12/1).

Sedangkan paranormal I Wayan Dite yang diajaknya tak mengetahui kejadian menegangkan itu. Sebab, Dite usai makan, langsung tidur lelap.

“Saya tidak tahu ada tiga leak ditandai tiga lampu mendekat. Sebab, saya tidur lelap, capek sehabis naik bukit,” kata Dite.

Ternyata bagi Matra sendiri, bukan sebatas itu godaan gaib yang dialaminya di malam itu. Setelah tiga lampu leak menjauh, muncul bayi ajaib di hadapannya, mengancam hendak membakarnya. Bayi ajaib itu, bagaikan manusia api, merah  menyala, yang merupakan pelancah Ida Batara Kilap Luhur Sakti, yang berstana di Pura Pudak Sari. “Yen sing cai ngajak ia, suba kageseng (Kalau tidak mengajak dia (I Wayan Dite), sudah saya bakar),” demikian Matra menirukan ancaman bayi ajaib, tersebut.

Dua macam ancaman dirasakan Matra, menambah akumulasi ketakutannya malam itu. Keesokan harinya, didengar kabar ternyata ada salah seorang warga yang tinggal di sekitar Bukit Pudak Sari, meninggal. Bau mayat manusia yang masih segar itulah, sebagai daya pikat sekawanan leak hendak mendekat ke Bukit Pudak Sari. Tetapi upaya leak itu gagal, gara-gara Matra dan Dite datang malam itu.

Di samping itu Dite sendiri menyadari, kedatangannya malam itu bermalam di Pura Pudak Sari, tanpa ngaturang banten matur piuning. “Saya maunya matur piuning besoknya. Begitu datang, langsung makemit (bermalam),” kata Dite. i wayan nantra

Foto: Pura Pudak Sari, dijaga bayi ajaib memancarkan bara api

misteri, pudak sari (2)

February 16, 2010

Misteri:

#Obsesi Membangun Wisata Mistik di Karangasem (2)

Dikejar Leak, Sembunyi di Pura Pudak Sari

Namanya juga leak, yang menganut ilmu pengleakan bagian dari ilmu pangiwa, ilmu hitam atau aliran kiri yang kerjanya suka usil. Juga disebut aji wegig. Selalu mencari-cari kesalahan orang lain, untuk dijadikan calon mangsanya, guna melampiaskan nafsu buruknya.

Biasanya di setiap melakukan aktivitas malam, sangat rahasia. Bahkan, suami, atau istri dan anak-anaknya pun tak boleh tahu. Termasuk lontar yang dimiliki, sangat disembunyikan, namanya Lontar Durga Paruna Tatwa.

Tetapi tak perlu gusar, jangan buru-buru memvonis ajaran leak itu, digunakan untuk kejahatan secara gaib. Leak juga ada yang baik ada yang jahat. Leak yang baik disebut Leak Sari, Leak Petak, atau Leak Putih, berguru langsung kepada Dewa Brahma, tak mencelakai manusia. Leak jahat, dinamai Leak Pamoroan, Leak Badeng, atau Leak Selem, berguru kepada Batari Durga, suka membencanai umat manusia.

Begitu juga di saat asik beraktivitas, baik di kuburan maupun di tempat lain, tak boleh ada yang tahu, takut ilmu sihir yang diamalkan selama ini disebarkan warga sekampung. Tetapi yang dialami I Ketut Sudita, warga Banjar Pesangkan Anyar, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem saat berkemah di Bukit Pudak Sari, Banjar Alastunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, sambil menyaksikan paruman leak, ditandai berkumpulnya puluhan lampu gaib, tanpa disadarinya saat mengintip diketahui salah satu leak.

Leak berupa cahaya merah, yang tidak diketahui identitas pemiliknya, marah. Tak tanggung-tanggung mengejar Sudita bersama lima rekan-rekannya. Lampu merah dengan cahaya agak suram itu bergerak semakin mendekat. Didit salah seorang rekannya mengetahui hal itu, kemudian diajak menghindar. Maka ramai-ramai bersembunyi ke Pura Pudak Sari.

“Jarak tempat kemah dengan Pura Pudak Sari sangat dekat, makanya saya gampang sembunyi. Setelah berkumpul di Pura Pudak Sari, merasa aman, tak dikejar lagi,” kenang Sudita, putra keempat dari 5 bersaudara, yang ayahnya I Wayan Dite Wijaya, seorang paranormal, disegani di kampungnya, belum lama ini.

Atas kejadian itu Sudita mengaku tidak pernah kapok. Berkemah merupakan bagian hobinya bermalam di puncak bukit di tegalannya sendiri seluas 7 hektare. Selain panoramanya sangat indah di siang hari, dan di malam hari juga dapat menyaksikan kelap-kelip lampu kota, dan lampu-lampu milik para siluman.

Di kesempatan berikutnya, kata Sudita, kembali berkemah di tempat sama, bersama rekan-rekannya. Salah satu kegiatannya, membuat api unggun. Ternyata korek api digunakan menyulut api unggun, tak kunjung hidup, hingga habis. Maka Sudita pasrah, batal membuat api unggun, kemudian bersama rekan-rekannya tumpukan kayu bakar itu ditinggalkan ke kemahnya, tidur-tiduran.

Di luar dugaan, tumpukan kayu bakar itu disambar cahaya gaib, kemudian terbakar hingga membakar kayu bakar itu hingga ludes. Saat itu membuat Sudita dan kawan-kawan ketakutan. Tak berani keluar, hanya menyaksikan dari celah-celah kemah.

Kali ini, aktivitas dilakukan Sudita, justru dibantu makhluk siluman.  Bisa jadi kelompok Leak Sari yang membantunya. Sebab, Dewa Braham jadi guru leak itu alias dewa api. Kedudukan Leak Sari pada aksara Ang, huruf suci Dewa Brahma, atau aksara pertama, dari OM (Ang, Ung dan Mang). Di dalam kegiatannya Leak Sari lebih mengamalkan ajaran Dasa  Aksara. i wayan nantra

Misteri: Menuju Bukit Pudak Sari, bisa lewat jalur Desa Padangtunggal

misteri, pudak sari (4)

February 16, 2010

Misteri:

—–ada foto—–

#Obsesi Membangun Wisata Mistik di Karangasem (4)#

Perang Antarbalian, Juga di Puncak Bukit Pudak Sari

Wisata mistik yang dimaksud, bukan saja bertujuan menyaksikan keindahan kelap-kelip lampu siluman di malam Kajeng Kliwon dari Bukit Pudak Sari, Banjar Alastunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem, juga sesekali diselingi menyaksikan perang api ajaib, saling sambar yang berkelebat di puncak bukit itu. Namanya, adu sakti secara gaib, dilakukan para balian (dukun) pangiwa atau yang suka menjalankan ajaran, merupakan kombinasi  putih dan aji wegig, melawan balian penengen (kanan).

Sekumpulan balian pangiwa d balian penengen itulah, biasanya bertemu di puncak Bukit Pudak Sari, di hari-hari tertentu untuk adu kekuatan. Makanya di puncak Bukit Pudak Sari, ada sebidang tanah yang kosong sekitar 10 are, tak bisa ditumbuhi tanaman kecuali alang-alang. Sebab, kondisi tanah itu kerap kali panas, gara-gara sambaran api yang beradu silih berganti, sehingga berpengaruh terhadap struktur tanah di puncak itu. Di samping, di areal tersebut rawan ada halilintar.

Paranormal I Wayan Dite Wijaya, dari Banjar Pesangkan Anyar, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat yang sering berwisata ke puncak itu, karena memiliki 7 hektare kebun, mengatakan, mengenai perang antarbalian pangiwa dan balian penengen, belakangan agak jarang terjadi. Tetapi aktivitas berkumpulnya para penganut ilmu leak, masih bisa disaksikan dari puncak itu.

Bahkan saat perang antarbalian pangiwa itu masih ramai, salah satu jurinya adalah kakeknya, sendiri, I Wayan Wiska (almarhum).  “Kakek saya pernah bercerita kepada saya, kakek saya itu sering jadi juri manakala terjadi perang antarbalian,” kenang Dite Wijaya, di kediamannya, belum lama ini.

Areal Bukit Pudak Sari yang dijadikan tempat perang tanding di malam hari, katanya, memang sangat memungkinkan. Jauh dari pemukiman penduduk, tak mungkin ada warga yang melintas di malam hari. Apalagi lokasinya terpencil, hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki, melintasi jalan setapak mendaki dari Banjar Alastunggal.

Walau jalur dari Tempek Penyabangan, Banjar Dalem, Desa Duda, Kecamatan Selat bisa ditempuh menggunakan sepeda motor, kondisi jalannya licin, salah-salah bisa tergelincir.

Perang antarbalian itu katanya, diatur para dewan juri. Para peserta terlebih dahulu dibagi dua blok. Pihak yang naik panggung telah ditentukan, dari kedua kubu.

Sebelum perang memulai, secara kasat mata katanya yang terlihat dua sosok manusia yang berkelebat  naik panggung arena. Setelah juri memberikan aba-aba, memulainya perang, maka manusia sakti itu berubah wujud jadi bara api. Maka yang terlihat, adalah kobaran api saling sambar. Pada akhirnya, setelah perang berlangsung beberapa kali putaran, dewan juri yang menentukan kalah dan menang.

Biasanya menurut paranormal itu, pihak yang kalah kembali berunding dengan pihak yang mengalahkan, di luar arena. Balian yang kalah minta tempo, misalnya bersedia mati setelah tuntas menyelesaikan bangunan rumahnya, atau bentuk perjanjian lainnya.

“Makanya ada balian yang mati mendadak, diawali dengan tanda-tanda secara tiba-tiba muntah darah, sakit tanpa sebab. Ya itu tadi, karena kalah perang,” lanjut Dite Wijaya. i wayan nantra

Foto: lokasi perang antarbalian di puncak Bukit Pudak Sari

misteri (pudak sari)-1

February 16, 2010

Misteri:

—–ada foto—-

#Obsesi Membangun Wisata Mistik di Karangasem (1)

Nonton Paruman Leak dari Bukit Pudak Sari

Leak itu, benar-benar ada. Bisa dibuktikan dan disaksikan aktivitasnya. Bagi ingin mengetahui hal itu, hubungi saja paranormal I Wayan Dite Wijaya, di Banjar Pesangkan Anyar, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem.

Sebab, tokoh, ayah 5 anak, dan 8 cucu itu, berkali-kali mengantar rekan-rekannya nonton bareng paruman leak dari Bukit Pudak Sari, di Banjar Alastunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, di setiap malam Kajeng Kliwon.

Sekitar tahun 1980-1990-an, Dite beserta keluarganya lebih sering menggelar kemah di Bukit Pudak Sari, mengingat dia memiliki 7 hektare lahan perkebunan cengkih. “Setiap malam Kajeng Kliwon, paruman leak itu bisa diawali pukul 20.00 Wita hingga 03.00 Wita. Ditandai banyak lampu berkerumun,” kenang mantan anggota DPRD Karangasem dari Fraksi Golkar tiga periode, tahun 1971-1977, tahun 1977-1982 dan tahun 1982-1987, di kediamannya, Minggu (10/1).

Paruman leak itu katanya bisa disaksikan dengan jelas. Lokasinya di perkirakan di Banjar Batu Gede, Desa Dua Timur, tetapi bisa dilihat dari Bukit Pudak Sari itu. Tanda-tanda dimulainya paruman gaib, katanya, adanya isyarat lampu yang terbang dari seluruh penjuru mata angin berkumpul di satu titik yang telah disepakati. “Warna lampu itu tidak begitu besar, sebesar bola tennis, warnanya merah, tetapi cahayanya suram, tidak seperti lampu biasa, yang bersinar terang,” katanya.

Setelah seluruh peserta paruman itu datang, maka terakhir datangnya kelian leak, atau ratunya leak, ditandai munculnya lampu besar sebesar bola basket, warna biru. “Kedatangan lampu biru itu langsung disambut puluhan lampu-lampu merah yang telah menunggu lebih dulu,” jelasnya.

Tata cara penyambutan atas kedatangan ratu leak itu, katanya, ditandai cahaya lampu merah berkerumun mendekati lampu biru tersebut. Terkadang berkumpul jadi satu, selanjutnya, terpencar lagi, bergeser ke beberapa meter. Tetapi pergerakannya di sekitar itu saja. Begitu seterusnya.

NusaBali sendiri juga pernah menyaksikan sekumpulan lampu di malam hari berkerumun, dipimpin lampu besar warna biru, di sekitar Bukit Pudak Sari, Banjar Alastunggal, sekitar tahun 1977. Apa yang diceritakan paranormal yang pensiunan PNS itu, begitu adanya di lapangan.

“Siapapun yang datang, di hari malam Kajeng Kliwon, tanpa kecuali, bisa menyaksikan paruman leak itu. Makanya setiap orang yang saya ajak, menjadi percaya, aktivitas itu memang ada,” katanya.

Salah satu menantunya, Didit, mulanya tidak percaya atas cerita leak yang begitu menghebohkan. Dite, kemudian mengajaknya berwisata ke puncak Bukit Pudak Sari, sambil berkemah. Ternyata dikagetkan, dari pukul 20.00 Wita, disaksikan cahaya gaib berkelebat di puncak bukit itu.

Hanya saja, katanya, belakangan ini semenjak seluruh kampung diterangi listrik, aktivitas paruman leak mulai berkurang. Itulah sebabnya, mulai ragu mengembangkan paket wisata mistik di Bukit Pudak Sari. Padahal menurutnya, panorama alam di sekitar itu, di siang hari sangat mengagumkan. Pemandangan mengarah ke 360 derajat. Ke arah utara bisa saksikan Gunung Agung, dan Gunung Batur. Ke arah barat bisa disaksikan Kota Denpasar, ke selatan yang terlihat Klungkung dan laut, ke timur terlihat Kota Amlapura, Candidasa dan sekitarnya. Hanya saja, perlu diwaspadai jika berwisata ke Bukit Pudak Sari, masih banyaknya monyet liar, cukup membahayakan. Jalur menuju Bukit Pudak Sari, mesti melintasi Desa Pakraman Padangtunggal, selanjutnya menuju Banjar Alastunggal, naik ke arah selatan. wayan nantra

Foto: jalur ke Bukit Pudak Sari, dari Desa Padangtunggal, tempat paruman leak


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.