misteri, pudak sari (4)

Misteri:

—–ada foto—–

#Obsesi Membangun Wisata Mistik di Karangasem (4)#

Perang Antarbalian, Juga di Puncak Bukit Pudak Sari

Wisata mistik yang dimaksud, bukan saja bertujuan menyaksikan keindahan kelap-kelip lampu siluman di malam Kajeng Kliwon dari Bukit Pudak Sari, Banjar Alastunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem, juga sesekali diselingi menyaksikan perang api ajaib, saling sambar yang berkelebat di puncak bukit itu. Namanya, adu sakti secara gaib, dilakukan para balian (dukun) pangiwa atau yang suka menjalankan ajaran, merupakan kombinasi  putih dan aji wegig, melawan balian penengen (kanan).

Sekumpulan balian pangiwa d balian penengen itulah, biasanya bertemu di puncak Bukit Pudak Sari, di hari-hari tertentu untuk adu kekuatan. Makanya di puncak Bukit Pudak Sari, ada sebidang tanah yang kosong sekitar 10 are, tak bisa ditumbuhi tanaman kecuali alang-alang. Sebab, kondisi tanah itu kerap kali panas, gara-gara sambaran api yang beradu silih berganti, sehingga berpengaruh terhadap struktur tanah di puncak itu. Di samping, di areal tersebut rawan ada halilintar.

Paranormal I Wayan Dite Wijaya, dari Banjar Pesangkan Anyar, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat yang sering berwisata ke puncak itu, karena memiliki 7 hektare kebun, mengatakan, mengenai perang antarbalian pangiwa dan balian penengen, belakangan agak jarang terjadi. Tetapi aktivitas berkumpulnya para penganut ilmu leak, masih bisa disaksikan dari puncak itu.

Bahkan saat perang antarbalian pangiwa itu masih ramai, salah satu jurinya adalah kakeknya, sendiri, I Wayan Wiska (almarhum).  “Kakek saya pernah bercerita kepada saya, kakek saya itu sering jadi juri manakala terjadi perang antarbalian,” kenang Dite Wijaya, di kediamannya, belum lama ini.

Areal Bukit Pudak Sari yang dijadikan tempat perang tanding di malam hari, katanya, memang sangat memungkinkan. Jauh dari pemukiman penduduk, tak mungkin ada warga yang melintas di malam hari. Apalagi lokasinya terpencil, hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki, melintasi jalan setapak mendaki dari Banjar Alastunggal.

Walau jalur dari Tempek Penyabangan, Banjar Dalem, Desa Duda, Kecamatan Selat bisa ditempuh menggunakan sepeda motor, kondisi jalannya licin, salah-salah bisa tergelincir.

Perang antarbalian itu katanya, diatur para dewan juri. Para peserta terlebih dahulu dibagi dua blok. Pihak yang naik panggung telah ditentukan, dari kedua kubu.

Sebelum perang memulai, secara kasat mata katanya yang terlihat dua sosok manusia yang berkelebat  naik panggung arena. Setelah juri memberikan aba-aba, memulainya perang, maka manusia sakti itu berubah wujud jadi bara api. Maka yang terlihat, adalah kobaran api saling sambar. Pada akhirnya, setelah perang berlangsung beberapa kali putaran, dewan juri yang menentukan kalah dan menang.

Biasanya menurut paranormal itu, pihak yang kalah kembali berunding dengan pihak yang mengalahkan, di luar arena. Balian yang kalah minta tempo, misalnya bersedia mati setelah tuntas menyelesaikan bangunan rumahnya, atau bentuk perjanjian lainnya.

“Makanya ada balian yang mati mendadak, diawali dengan tanda-tanda secara tiba-tiba muntah darah, sakit tanpa sebab. Ya itu tadi, karena kalah perang,” lanjut Dite Wijaya. i wayan nantra

Foto: lokasi perang antarbalian di puncak Bukit Pudak Sari

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: