misteri, pudak sari (3)

Misteri:

—–ada foto—–

#Obsesi Membangun Wisata Mistik di Karangasem (3)#

Dikroyok Leak, Nyaris Dibakar Api Suci Batara Kilap

Kombinasi pengalaman gaib, antara menakutkan, menegangkan dan rasa ingin tahu, dirasakan, I Wayan Matra dari Banjar Putung, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem. Matra menuturkan, saat bermalam di Pura Pudak Sari, lokasinya di puncak Bukit Pudak Sari, Banjar Alastunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, bersama paranormal I Wayan Dite Wijaya dari Banjar Pesangkan Anyar, Desa Duda Timur.

Saat itu menurut Matra, hari Tilem, malam Kajeng Kliwon. Kebetulan malam itu merupakan jadwal paruman leak. Sehingga dengan jelas bisa disaksikan kegiatan tersebut dari puncak Bukit Pudak Sari, ditandai berkerumunnya cahaya gaib, dipimpin bola lampu biru yang ukurannya paling besar.

Matra hanya datang berdua membawa perlengkapan upakara untuk kebutuhan upacara Tumpek Ngatag, yang jatuh di hari Saniscara (Sabtu), Kliwon, Wariga. Kedatangannya Jumat malam, tujuannya agar bisa melakukan persembahyangan di pagi hari, keesokan harinya.

Begitu tiba di puncak Bukit Pudak Sari, istirahat di Pura Pudak Sari, langsung menyantap bekal. Selanjutnya, paranormal I Wayan Dite Wijaya yang diajaknya langsung tidur di piasan Pura Pudak Sari, ukuran 2 meter kali 3 meter tanpa dinding. Sedangkan Matra, masih berkemas-kemas di luar pagar pura.

Saat itulah, tiga lampu gaib, terpisah dari gerombolan paruman leak, mengejar Matra. Matra langsung menyelinap di Pura Pudak Sari, sambil tidur-tiduran di piasan.

Matra mengaku ketakutan, tiga lampu siluman tersebut, terus menungguinya dari balik pohon cengkih yang ada di tegalan itu.  Sebab, Matra dianggap telah mengintip aktivitas paruman leak yang tengah asik digelar, sehingga aktivitas leak di tengah malam itu terusik. “Saya benar-benar dibuat ketakutan. Tiga lampu gaib tersebut, terus mengintip saya dari balik dahan pohon. Saya tidak bisa tidur sampai pagi,” kenang Matra di Amlapura, Selasa (12/1).

Sedangkan paranormal I Wayan Dite yang diajaknya tak mengetahui kejadian menegangkan itu. Sebab, Dite usai makan, langsung tidur lelap.

“Saya tidak tahu ada tiga leak ditandai tiga lampu mendekat. Sebab, saya tidur lelap, capek sehabis naik bukit,” kata Dite.

Ternyata bagi Matra sendiri, bukan sebatas itu godaan gaib yang dialaminya di malam itu. Setelah tiga lampu leak menjauh, muncul bayi ajaib di hadapannya, mengancam hendak membakarnya. Bayi ajaib itu, bagaikan manusia api, merah  menyala, yang merupakan pelancah Ida Batara Kilap Luhur Sakti, yang berstana di Pura Pudak Sari. “Yen sing cai ngajak ia, suba kageseng (Kalau tidak mengajak dia (I Wayan Dite), sudah saya bakar),” demikian Matra menirukan ancaman bayi ajaib, tersebut.

Dua macam ancaman dirasakan Matra, menambah akumulasi ketakutannya malam itu. Keesokan harinya, didengar kabar ternyata ada salah seorang warga yang tinggal di sekitar Bukit Pudak Sari, meninggal. Bau mayat manusia yang masih segar itulah, sebagai daya pikat sekawanan leak hendak mendekat ke Bukit Pudak Sari. Tetapi upaya leak itu gagal, gara-gara Matra dan Dite datang malam itu.

Di samping itu Dite sendiri menyadari, kedatangannya malam itu bermalam di Pura Pudak Sari, tanpa ngaturang banten matur piuning. “Saya maunya matur piuning besoknya. Begitu datang, langsung makemit (bermalam),” kata Dite. i wayan nantra

Foto: Pura Pudak Sari, dijaga bayi ajaib memancarkan bara api

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: